Ibadah Haji Mengokohkan Ketauhidan

Ibadah Haji Mengokohkan Ketauhidan

Haji adalah ibadah yang tergabung didalamnya amalan badan, pengorbanan harta dan rangkaian ibadah yang menuntut keiklasan dan kesungguhan. Haji adalah salah satu ibadah yang paling agung yang memiliki kandungan makna dan hikmah yang sangat luas dan mendalam. Para ulama menyatakan, bahwa haji adalah salah satu madrasah agung untuk menggembleng keimanan seorang muslim. “Dan kumandangkanlah ibadah haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus, yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka, dan agar mereka menyebut Nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan, atas rezeki yang telah Allah berikan kepada mereka berupa binatang ternak.” (Qs. Al Haj: 27-28)
Ibadah haji bukan hanya sebuah rentetan amalan sakral yang tidak ada hikmah dan manfaatnya. Ibadah haji penuh dengan maksud dan hikmah sangat indah dan besar. Salah satu hikmah bisa dipetik dari amalan pertama dari ibadah haji yaitu ucapan talbiyyah.
“Kusambut panggilan-Mu, Ya Allah, kusambut panggilan-Mu, Kusambut panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, Kusambut panggilan-Mu, sesungguhnya segala puji, karunia, dan kekuasaan hanyalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.”
Talbiyyah ini adalah puncak pengikraran iman dan tauhid, di mana hakikat iman dan tauhid adalah pengagungan Allah dengan sebenar-benarnya. Pada ucapan talbiyyah kita mengikrarkan bahwa segala pujian, kenikmatan dengan berbagai macam dan wujudnya, dan segala kekuasaan, termasuk ke dalamnya mengatur alam semesta hanya milik Allah. Tidak ada satu pun yang menjadi sekutu bagi Allah dalam semua hal tersebut. Hikmah dari talbiyyah adalah peneguhan komitmen tauhid dan keimanan hanya kepada Allah. Sikapdemikian ini merupakan puncak akhlak yang mulia dengan Allah, di mana kita mengakui bahwa Allah-lah yang menciptakan, mengatur dan hanya Dia-lah yang berhak disembah.
Hikmah yang sangat besar bisa dipetik selama melakukan wukuf di Arofah. Hari Arafah, adalah hari yang paling agung, hari yang padanya kaum muslimin dengan jumlah yang sangat besar berkumpul di satu tempat, dengan pakaian yang sama, amalan sama, tujuan sama. Hari yang padanya turun berbagai rahmat Allah dan diampuni dosa-dosa manusia, dan hari yang padanya pula Allah paling banyak membebaskan manusia dari neraka. Pada hari ini pula Allah menyempurnakan agama dan kenikmatan bagi umat ini, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhoi islam sebagai agama bagimu.” (Qs. Al Maaidah: 3)
Pada hari itu setiap jamaah haji menunjukkan sikap tunduk, merendahkan diri, banyak berdoa, menggantungkan segala harapannya hanya kepada Allah ta’ala, banyak berzikir, berdoa, meninggalkan segala kegiatan selain menghadapkan jiwa dan hatinya hanya kepada Alla. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik doa adalah doa pada hari arafah, dan sebaik-baik doa yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan adalah doa: La ilaha illallahu wahdahu la syarika lahu lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qodir (Tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah kekuasaan, dan milik-Nyalah segala pujian, sedangkan Dia atas segala sesuatu Maha Kuasa).” (HR. Ahmad dan At Tirmidzi) Sungguh sebuah akhlak seorang hamba yang sempurna, betapa tidak, pada hari yang paling agung, beliau mengucapkan doa yang paling agung, yang bermaknakan mengesakan Allah dan berlepas diri dari segala macam bentuk kesyirikan dan sesembahan selain Allah.
Bukan hanya pada talbiyyah dan wukuh saja ibadah haji bermakna mengokohkan jiwa tauhid, karena setiap rangkaian ibadah haji pada dasarnya adalah wujud dari keteguhan iman dan kokohnya ketauhidan seorang muslim. Sudah seharusnya sepulang menunaikan ibadah haji para jamaah haji semakin kokoh dan teguh memegang dan menegakkan tauhid hanya pada Allah. (dari beberapa sumber/anton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*