The Power of Love

The Power of Love

oaseCinta dan kasih sayang adalah karunia indah yang diberikan Allah kepada setiap makhluknya. Karena rasa cinta seseorang rela berkorban apapun untuk yang dicintainya meskipun itu sangat berat. Seseorang yang benar-benar cinta pada tubuhnya maka ia akan selalu menjaga kesehatannya. Seseorang yang cinta pada orang tuanya maka ia akan berbakti dan mengabdi pada orangtua yang dikasihinya. Itulah makna The Power of Love atau kekuaatan cinta. Dia menjadi inspirasi berjuta-juta manusia untuk berkorban dan berjuang demi yang dicintainya.
Namun kekuatan cinta harus kita tempatkan pada proporsi dan tempat yang benar. Harus dipahami dengan sungguh-sungguh bahwa cinta kepada Allah merupakan cinta tertinggi dari sekian banyak cabang cinta yang ada didunia ini. Cinta kita kepada Allah dapat menyingkirkan dan mengalahkan cinta-cinta yang lain. Kecintaan kita pada Allah adalah cinta sejati yang tiada lawan bandingnya.
Seorang sufi wanita dari Basrah yaitu Rabi’ah Al- Adawiyah pernah berkata ketika beliau berziarah ke makam Rasulullah Saw, “Maafkan aku ya Rasul, bukan aku tidak mencintaimu, akan tetapi hatiku telah tertutup untuk cinta yang lain karena telah penuh cintaku kepada Allah Swt”. Begitulah the power of love seorang Rabiah Al-Adawiyah. Kekuatan cintanya kepada Allah mampu mengalahkan cinta-cinta lain.
Cinta kita kepada Allah adalah komitmen keimanan yang harus terjaga hingga kematian menjemput. Namun bukan berarti kita mengesampingkan cinta kita pada sosok agung Muhammad Rasulullah yang selama ini juga kita cintai. Cinta kita kepada Rasulullah menjadi bagian dari cinta kita kepada Allah yang telah menurunkan sosok penyelamat umat bernama Muhammad. Nabi Saw pernah bersabda, “Belum sempurna imam seseorang itu hingga ia mencintai Allah dan Rasulnya melebihi cintanya dari pada yang lain”.
Gambaran betapa agungnya ekspresi cinta orang beriman bisa dilihat pada kisah Husain cucu Rasulullah bersama ayahnya Ali ra. Sewaktu masih kecil Husain bertaya kepada ayahnya, Ali ra: “Apakah ayah mencintai Allah?” Ali ra menjawab, “Ya”. Lalu Husain bertanya lagi: “Apakah ayah mencintai kakek dari Ibu?” Ali ra kembali menjawab, “Ya”. Husain bertanya lagi: “Apakah ayah mencintai Ibuku?” Lagi-lagi Ali menjawab,”Ya”. Husain kecil kembali bertanya: “Apakah ayah mencintaiku?” Ali menjawab, “Ya”. Terakhir Si Husain yang masih polos itu bertanya, “Ayahku, bagaimana engkau menyatukan begitu banyak cinta di hatimu?” Kemudian Sayidina Ali menjelaskan: “Anakku, pertanyaanmu sungguh hebat! Cintaku pada kekek dari ibumu (Nabi Saw.), ibumu (Fatimah ra) dan kepada kamu sendiri adalah kerena cinta kepada Allah”. (Anton disarikan dari Taufiq S. Ritonga)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*