Teladan Kepemimpinan Rasulullah

Teladan Kepemimpinan Rasulullah

Ketika kursi kekuasaan sedang menjadi rebutan banyak orang dan makna pemimpin negara telah bergeser menjadi hanya sekedar pemangku kekuasaan, maka sungguh bijak bila kita mencoba mencermati kembali kepemimpinan Rasulullah. Model kepemimpinan Rasulullah telah terbukti mampu menggeser peradaban jahiliyah menjadi peradaban maju dan kokoh. Tatanan sosial, ekonomi, politik, kebudayaan dan hubungan antar negara telah dibangun dalam format Islami yang mensejahterakan dan membahagiakan.

Sosok kepemimpinan Rasulullah bisa menjadi gambaran ideal bagi para ‘peminat’ kursi kekuasaan dan mereka yang sudah menikmati kursi kekuasaan. Tidak ada salahnya bila mereka dan kita semua bercermin pada keteladanan kepemimpinan Rasulullah.

Persyaratan pertama yang dimiliki Rasulullah adalah kualitas personal yang sempurna sebagai seorang pemimpin. Sifat siddiq (benar), amanah (terpercaya), tabligh (menyampaikan apa adanya) dan fathonah (pandai) adalah sifat yang melekat kuat sejak Rasulullah Muhammad usia muda. Reputasi pribadi (personal branding/reputation) yang lengkap dan utuh serta kepemimpinan prophetic yang bersumber dari Al-Qur`an mewarnai seluruh perjalanan kepemimpinan Rasulullah.

Islam menegaskan pentingnya kualitas dan integritas diri pemimpin. Negara yang baik hanya dapat lahir dari pemimpin yang memiliki integritas dan karakter pribadi yang patut diteladani. Pemimpin harus memiliki visi menjadi pelayan masyarakat yang dicintai dan mencintai dengan syariah Islam, bukan dengan mengeksploitasi ambisi dan kepentingan diri sendiri. Rasululullah bersabda: Sebaik-baik imam (pemimpin) kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian serta yang kalian doakan dan mereka juga mendoakan kalian. Seburuk-buruk imam (pemimpin) kalian adalah yang kalian benci dan mereka membenci kalian serta yang kalian laknat dan mereka juga melaknat kalian. (HR Muslim, Ahmad dan ad-Darimi).

Rasulullah juga memiliki kualitas maksimum sebagai pemimpin, diantaranya: mampu melihat ke depan, mendelegasikan kekuasaan kepada orang lain yang mampu, memandang penting orang lain, memajukan bakat intelektual, emosional dan praktis, tidak meminta ketaatan buta, bersahaja dan rendah hati, bermartabat dan sangat memperhatikan pengelolaan sumber daya manusia.

Selain itu, format kepemimpinan Rasulullah juga menghendaki kepemimpinan yang kuat dan amanah dan hal itu hanya akan lahir jika dasarnya adalah kepemimpinan ideologis (qiyâdah fikriyah). Artinya, kepemimpinan harus dibangun oleh akidah Islam dan syariahnya. Pemimpin dan rakyat sama-sama memahami dan berpegang pada akidah dan syariah Islam. Pemimpin diikuti bukan karena akhlaknya semata, melainkan juga karena dia pengemban kebenaran. Begitu juga, pemimpin berkuasa bukan karena kekuasaannya belaka, melainkan karena amanahnya untuk menerapkan Islam.

Negeri Baldah thayyibah akan terwujud jika para pemimpinnya menempatkan diri sebagai pelayan rakyat dan dengan sepenuh hati menjaga integritas diri sesuai syariat sebagaimana telah dicontohkan Rasulullah. Sudahkan para pemimpin dan calon pemimpin negeri ini meneladani kepemimpinan Rasulullah? (ton, dari berbagai sumber).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*