Paradigma Ilmu Dalam Islam

Paradigma Ilmu Dalam Islam

Islam memberi perhatian besar pada ilmu pengetahuan. Dalam surat Ar-Rahman, Allah menjelaskan bahwa diri-Nya adalah pengajar (‘Allamahu al-Bayan) bagi seluruh mahluknya. Ayat pertama yang diturunkan Allah adalah Surat Al-‘Alaq, di dalam ayat itu Allah memerintahan kita untuk membaca dan belajar. Allah mengajarkan kita dengan qalam, yang bisa diartikan sebagai media proses pembelajaran dan transfer ilmu pengetahuan.

Di dalam Al qur’an kata ilmu dan kata-kata jadiannya di gunakan lebih dari 780 kali. Hal ini membuktikan ajaran Islam sangat kental dengan nuansa yang berkaitan dengan ilmu. Oleh karena itu Islam juga memberi penghargaan tinggi kepada umatnya yang memiliki kesungguhan dalam meraih ilmu, sebagaimana Allah berfirman,“Allah meninggikan beberapa derajat (tingkatan) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang berilmu (diberi ilmu pengetahuan). Dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Mujadalah ayat 1)

Sahabat Muadz bin Jabal ra. berkata: “Andaikata orang yang berakal itu mempunyai dosa pada pagi dan sore hari sebanyak bilangan pasir maka akhirnya dia cenderung masih bisa selamat dari dosa tersebut, namun sebaliknya andaikata orang bodoh itu mempunyai kebaikan dan kebajikan pada pagi dan sore hari sebanyak bilangan pasir, maka akhirnya ia cenderung tidak bisa mempertahankannya sekalipun hanya seberat biji sawi.”

Hal ini juga diungkapkan oleh Dr Mahadi Ghulsyani yang menyatakan bahwa ”Salah satu ciri yang membedakan Islam dengan yang lainnya adalah penekanannya terhadap masalah ilmu (sains). Al quran dan Al sunah mengajak kaum muslim untuk mencari dan mendapatkan Ilmu dan kearifan serta menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada derajat tinggi’’

Namun berbeda pula dengan agama lain, Islam menempatkan Ilmu tetap dalam bingkai aqidah Islam. Artinya, Islam tetap menjadi dasar pemahaman ilmu dan pengetahuan. Aqidah Islam menjadi basis dari segala ilmu pengetahuan. Aqidah Islam, yang terwujud dalam al-Qur`an dan al-Hadits menjadi qa’idah fikriyah (landasan pemikiran) dalam proses pencarian dan pengembangan ilmu. Paradigma ini memerintahkan manusia untuk membangun segala pemikirannya berdasarkan Aqidah Islam, bukan lepas dari aqidah itu. Dengan tegas Allah memberi tuntunan, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.” (QS. Al ‘Alaq : 1). “Dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (Qs. ath-Thalaq : 12).

Paradigma Islam inilah yang seharusnya dipegang kuat oleh kaum muslimin dalam pengembangan ilmu dan pengetahuan, bukan paradigma sekuler seperti yang ada sekarang. Sudah seharusnya kita bangun kembali komitmen untuk selalu merujuk pada Al Qur’an dan As Sunnah dalam pengembangan paradigma ilmu dan penerapannya dalam sistem pendidikan. Pengembangan ilmu ekonomi kapitalis, pendekatan politik demokratis secara sempit, teori Darwin yang menyesatkan, pendekatan kesetaraan jender dan berbagai ilmu sekuler lainnya harus mulai ditinggalkan dan diganti dengan ilmu yang lebih Islami. (Anton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*