Model Kepemimpinan Rasulullah

Model Kepemimpinan Rasulullah

NABI dalam kesadaran umat Islam merupakan teladan dalam segenap hal (uswah khasanah). Dalam kata-kata Iqbal, “Cinta kepada Nabi mengalir bak darah di dalam urat-urat umatnya” atau dalam lukisan Rumi, “Inilah sahabatku, inilah dokterku, inilah guruku, inilah obatku” (hadza habibi, hadza thabibi, hadza adibi, hadza dawa’i).
Sejarah mengajarkan bahwa model kepemimpinan Nabi betul-betul telah mampu mengubah wajah sejarah dari yang semula primitif (jahiliah) menjadi beradab dalam waktu 23 tahun. Yahdi minaz zulumati ilan nur.

Model kepemimpinan yang dikembangkan Nabi intinya tidak lain dilandaskan pada akhlak dan moralitas yang kokoh. Minimal kita dapat mencatat lima hal penting akhlak yang melekat dalam kepemimpinan Nabi. Pertama, beliau adalah sosok yang mampu meresapkan rasa keadilan yang merata kepada semua pihak tanpa kecuali. Keadilan di tangan Nabi tidak pernah dikorbankan atas nama apa pun seperti terpantul dari ajaran-Nya, “Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuat kamu tidak berlaku adil” (Q.S. 5:8). Nabi sadar betul bahwa keadilan merupakan jendela guna mewujudkan masyarakat yang sejahtera. Dalam bahasa Alquran, keadilan merupakan alat untuk merengkuh takwa (Q.S. 5:8) dan takwa merupakan prasyarat terbukanya rezeki dari langit (Q.S. 7:96).

Kedua, Nabi benar-benar memimpin dengan sentuhan rasa cinta, empati dan simpatik yang tiada tara yang dipersembahkan kepada seluruh umatnya. Begitu cintanya Nabi kepada rakyatnya sampai-sampai kata-kata yang keluar dari mulutnya ketika hendak mengembuskan nafasnya pun adalah simpul dari kecintaannya, “ummati… ummati… ummati” (bagaimana nasib umatku kelak…). Bahkan lebih dari itu kecintaan juga beliau alokasikan untuk binatang dan alam sebagaimana tergambar dari kebijakannya yang membuat kawasan hima (cagar alam) di Madinah dan tanah haram di seputar Mekah. Sebuah gambaran akan kesadaran ekologis yang sangat mengagumkan.

Ketiga, Nabi adalah pemimpin yang selalu berkata benar (shidiq). Beliau sangat paham bahwa kata-kata itu bukan hanya akan membawa pengaruh bagi lingkungan tapi juga dapat membawa akibat kelak di akhirat. Beliau senantiasa berpedoman kepada prinsip, “Apabila tidak bisa berkata benar dan jujur maka lebih baik diam”.

Keempat, beliau adalah pemimpin yang selalu menjunjung tinggi amanah. Beliau tidak pernah berjanji kecuali janji itu ditepati. Al-amin atau orang yang terpercaya jauh-jauh hari merupakan atribut yang melekat dalam dirinya. Sikap amanah yang diakui bukan hanya oleh sahabat-sahabatnya sendiri bahkan oleh mereka yang berbeda keyakinan sekali pun.

Kelima, Nabi adalah pemimpin yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata (fathanah). Kata-kata yang keluar dari mulutnya dan kebajikan yang diambilnya menjadi bukti ihwal kecerdasan Nabi. Ketika Nabi berbicara walaupun sebentar, misalnya, maka kata-katanya itu benar-benar menyimpan makna yang mendalam

Keenam, Nabi selalu bersikap transparan (tabligh). Dia sampaikan setiap kebenaran dan diluruskannya segala hal yang dianggap keliru. Di tangannya tidak ada kebenaran yang disembunyikan. Lebih dari itu, dalam menyampaikan kebenarannya pun, Nabi melakukannya dengan cara-cara yang bijaksana (al-hikmah) tutur kata yang santun (al-mauidzhah al-hasanah) diiringi alasan dan logika yang kokoh (al-mujadalah).

Itulah beberapa model nilai-nilai kepemimpinan yang dikembangkan Nabi saw. sebagai modal dasar dalam melakukan perubahan sosial ke arah yang lebih baik. Nilai-nilai seperti itulah sebenarnya yang seharusnya menjadi pertimbangan utama ketika kita memilih pemimpin. Sebab bagaimana pun juga setiap kepemimpinan dan termasuk orang yang mengangkatnya sebagai pemimpin semua akan dimintai pertanggungjawabannya (kullukum ra’in wa kukullukum mas’ulun ‘an raiyyatih). Sekali kita mengkhianati amanah kepemimpinan, maka sebenarnya kita telah melakukan pengkhianatan kepada Rasul bahkan kepada Allah (Q.S. 8: 27-28). (Tina Y.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*