Memelihara Hidayah Iman

Memelihara Hidayah Iman

Kita tidak boleh puas dengan hidayah iman yang sudah kita peroleh, karena hidayah yang sudah berlabuh di hati tidak selamanya dalam kondisi prima. Jika dekat dengan Allah dia menguat dan saat jauh dia melemah. Allah SWT berfirman untuk mengajarkan kita agar selalu berdoa dan memohon kepada-Nya: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia).” (Ali Imran: 8)

Nabi saw juga selalu berdoa kepada Allah seperti yang diceritakan oleh Abu Sufyan dari Anas bin Malik: “Wahai Zat yang selalu membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati saya pada agama-Mu, maka saya berkata: Wahai Rasulullah saw, kami telah beriman kepadamu dan beriman terhadap yang engkau bawa, apakah engkau tetap khawatir atas kami. Nabi bersabda: Sesungguhnya hati-hati itu berada di antara tangan-tangan Allah, Dia mampu membolak-balikkannya sebagaimana Dia kehendaki”. (Tirmidzi)

Karakter hati kita adalah mudah berbolak balik, gampang berubah, dan tidak tetap dalam satu keadaan. Rasa cinta yang mendalam tidak mustahil berubah menjadi dendam kesumat. Tidak selamanya kebencian bersemayam di dalam hati, ada saatnya dia berbalik untuk mencinta. Kadang-kadang ibadah terasa begitu nikmat, tetapi pada waktu yang lain ia terasa hambar. Tidak mustahil hidayah yang telah terhunjam kuat ke dalam hati tercerabut kembali.

Siapa yang menyangka Hindun yang tadinya sangat membenci Rasulullah saw akhirnya menjadi orang yang paling dekat di hatinya. Siapa yang mengira Ubaidillah yang termasuk salah seorang senior dalam Islam dan masuk dalam kafilah pertama yang hijrah ke Habsyah akhirnya kembali kepada kekufurannya. Karena itu kita perlu waspada jangan sampai dia menghilang dari kita tanpa kita sadari. Beberapa titik rawan yang berpotensi menggerogoti hidayah di antaranya adalah fitnah, godaan harta, kedudukan, lawan jenis, si buah hati, (Ali Imran:14, At-Taubah:38) intimidasi, dan fitnah dajal serta lunturnya idealisme (At-Taubah:75-76).

Ibarat pohon yang diharapkan tumbuh lebat dan rindang, maka perlu di rawat dengan baik. Begitu pula dengan hidayah iman membutuhkan perawatan yang maksimal sehingga tetap berada dalam naungan Allah. Yaitu dengan melakukan cara-cara berikut: Rawat dengan aqidah yang benar, sinari hidayah dengan nur Al-Qur’an dan dzikir kepada Allah. (An-Nisa:174). Sirami hidayah dengan ibadah, dan beri pupuk hidayah dengan dakwah, tarbiyah, membaca kisah teladan dan meminta nasihat orang saleh. Pagari hidayah dengan taqwa, hidup bersama orang-orang baik dan doa (At-Taubah:119).

Dan tidak ada jalan lain untuk selamat dari malapetaka fitnah dan prahara lunturnya idealisme kecuali dengan istiqamah dan komitmen di jalan Allah. Makna istiqamah dan komitmen adalah tekad untuk tetap mentauhidkan Allah dan menaati segala perintah-Nya hingga akhir hayat (Al-Hijr:99). Dan selalu memohon kepada Allah untuk diberikan ketetapan istiqamah hingga ajal menjemput, seperti pada ayat yang sedang kita bahas saat ini.

Balasan untuk orang yang berhasil menjaga hidayah sehingga tetap istiqamah; dengan senantiasa mengerjakan kebaikan dan segera bertobat jika melakukan kekeliruan, pada saat sakaratul maut yang menegangkan, para malaikat akan turun mengiringi kepergian ruh dari jasadnya sembari mengatakan: “Jangan kamu takut dan janganlah bersedih, surga yang dijanjikan kepadamu sudah siap menantimu”. (Fushilat:30, Al-Ahqaf:13) dan akan berkata pula: “Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku” (Al-Fajr:27-30). (Al-ikhwan/ton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*