Laknat Suap

Laknat Suap

Dalam sebuah hadits marfu’ riwayat Abu Hurairah disebutkan, “Allah melaknat penyuap dan penerima suap dalam (urusan) hukum.”( Hadits riwayat Imam Ahmad, Shahihul Jami’, 5069)

Memberi uang suap kepada qadhi atau hakim agar ia membungkam kebenaran atau memberlakukan kebatilan merupakan suatu kejahatan. Sebab perbuatan itu mengakibatkan ketidakadilan dalam hukum, penindasan orang yang berada dalam kebenaran serta menyebarkan kerusakan di bumi. Allah berfirman, “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (Al-Baqarah: 188).

 

Namun makna suap menyuap tentunya tidak hanya berlaku pada permasalahan hukum saja. Semua aspek kehidupan tentu harus dijauhkan dari suap menyuap. Menurut Ibnu Abidin, suap adalah sesuatu yang diberikan seseorang kepada hakim atau lainya supaya orang itu memutuskan sesuatu hal yang memihak kepadanya atau agar ia memperoleh keinginanya. Pemberian itu adakalanya berupa harta benda, uang atau apa saja yang bermanfaat bagi si penerima sehingga keinginan penyuap tersebut dapat terwujud.

Sayangnya saat ini, suap-menyuap sudah menjadi kebiasaan umum. Bagi sebagian pegawai, suap menjadi pemasukan yang hasilnya lebih banyak dari gaji yang mereka peroleh. Untuk urusan suap menyuap, banyak perusahaan dan kantor yang mengalokasikan dana khusus. Berbagai urusan bisnis atau mu’amalah lainnya, hampir semua dimulai dan diakhiri dengan tindakan suap. Suap menyuap sudah dianggap sebagai bagian yang harus ada dari proses penyelesaian urusan. Bahkan suap sudah tidak lagi dianggap sebagai dosa sehingga sering dilakukan secara berjamaah dan terbuka.

 

Suap termasuk salah satu dosa yang diharamkan Allah Swt atas hamba-hambaNya, dan Rasulullah pun melaknat pelakunya. Maka kita wajib menjauhi dan waspada terhadapnya serta memberi peringatan kepada orang yang melakukannya karena suap mengandung kejahatan dan merupakan dosa yang berakibat sangat buruk. Allah Swt melarang kita bekerjasama dalam perbuatan dosa dan pelanggaran. Allah Swt berfirman, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al Maidah: 2).

 

Oleh karena itu tidak heran jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memohon agar orang-orang yang memiliki andil dalam urusan suap-menyuap semuanya dijauhkan dari rahmat Allah. Dari Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhu, ia berkata, bersabda Rasulullah, “Semoga laknat Allah atas penyuap dan orang yang disuap.”( Hadits riwayat Ibnu Majah ,2313; Shahihul Jami’, 5114.) (Dari kitab “Muharramat Istahana Bihan Naas” karya Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Munajjid/Anton)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*