Klasifikasi Ilmu menurut ulama islam

Klasifikasi Ilmu menurut ulama islam

Al Qur’an telah mengajarkan bahwa para pencari ilmu dan para ulama menempati kedudukan yang sangat terhormat, sementara hadis nabi menunjukan bahwa menuntut ilmu merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim. Dari sini timbul permasalahan apakah segala macam Ilmu yang harus dituntut oleh setiap muslim dengan hukum wajib (fardu), atau hanya Ilmu tertentu saja ? Hal ini mengemuka mengingat sangat luasnya spsifikasi ilmu dewasa ini .

Pertanyaan tersebut di atas nampaknya telah mendorong para ulama untuk melakukan pengelompokan (klasifikasi) ilmu menurut sudut pandang masing-masing. Syech Zarnuji dalam kitab Ta’liimu Al Muta‘alim ketika menjelaskan hadis bahwa menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim menyatakan: “Ketahuilah bahwa sesungguhya tidak wajib bagi setiap muslim dan muslimah menuntut segala ilmu, tetapi yang diwajibkan adalah menuntut ilmu perbuatan (‘ilmu Al hal), sebagaimana diungkapkan bahwa sebaik-baik ilmu adalah ilmu perbuatan dan sebagus-bagus amal adalah menjaga perbuatan”.

Sementara itu Al Ghazali di dalam Kitabnya Ihya Ulumudin mengklasifikasikan Ilmu dalam dua kelompok yaitu Ilmu Fardu a’in, yaitu ilmu tentang cara amal perbuatan yang wajib.Orang yang mengetahui ilmu yang wajib dan waktu wajibnya berarti dia sudah mengetahui ilmu fardu a’in. Termasuk dalam ilmu ini adalah ilmu agama dengan segala cabangnya, seperti yang tercakup dalam rukun Islam. Yang kedua adalah Ilmu Fardu Kifayah, yaitu tiap-tiap ilmu yang tidak dapat dikesampingkan dalam menegakan urusan duniawi. Yang termasuk ilmu ini antara lain ilmu kedokteran, ilmu berhitung untuk jual beli, ilmu pertanian, ilmu politik, ilmu menjahit dan berbagai ilmu lain.

Klasifikasi Ilmu yang lain dikemukakan oleh Ibnu Khaldun yang membagi kelompok ilmu ke dalam dua kelompok, yaitu; Pertama, ilmu yang merupakan suatu yang alami ada pada manusia, yang bisa dilakukan dengan kegiatan berpikir (aqliyah). Kedua, Ilmu yang bersifat tradisional (naqli). Artinya, kelompok pertama nampaknya mencakup ilmu-ilmu dalam spektrum luas sepanjang hal itu diperoleh melalui kegiatan berpikir. Adapun untuk kelompok ilmu yang kedua Ibnu Khaldun merujuk pada ilmu yang sumber keseluruhannya ialah ajaran-ajaran syariat dari al qur’an dan sunnah Rasul. (Uhar Suharsaputra/ton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*