Hidup Sesudah Mati

Hidup Sesudah Mati

Hidup adalah penantian menuju kematian. Setiap waktu kematian akan datang menjemput siapapun. Kehadirannya adalah kepastian, namun dia selalu membawa rahasia tentang waktu kedatangannya. Tidak ada satupun mahhluk berjiwa yang bisa menunda atau mempercepat kehadirannya. Allah telah berfirman, “Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati, dan Kami menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan sebagai satu fitnah (ujian), dan hanya kepada Kami-lah kalian akan dikembalikan.” (Al-Anbiya`:35) “Di mana saja kalian berada, kematian pasti akan mendapati kalian, walaupun kalian berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (An-Nisa`: 78)

Kematian oleh banyak ulama dikatakan sebagai awal kehidupan yang sesungguhnya. Perjalanan panjang menuju akhirat dimulai dari langkah awal berupa kematian. Ayat-ayat Al-Quran dan hadis Nabi menunjukkan bahwa kematian bukanlah ketiadaan hidup secara mutlak, tetapi ia adalah ketiadaan hidup di dunia. Artinya, manusia yang meninggal pada hakikatnya masih tetap hidup di alam lain dan dengan cara yang tidak dapat diketahui sepenuhnya. Al Qur’an dengan jelas mengungkapkan, “Janganlah kamu menduga bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, tetapi mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki” (QS Ali-‘Imran: 169). Dan Al Qur’an juga menjelaskan bahwa hidup yang sesungguhnya adalah di akherat. “Sesungguhnya negeri akhirat itu adalah al-hayawan (kehidupan yang sempurna).” (QS Al-‘Ankabut: 64).

 

Oleh karena itu, bagi seorang yang beriman kematian sesungguhnya bukan sesuatu yang menakutkan. Kematian menjadi pintu gerbang menuju kehidupan yang lebih mulia dan membahagiakan. Kehidupan di dunia hanyalah sementara dan menjadi ladang bertanam untuk bekal menuju hidup abadi sesudah mati. “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar, sedang akhirat lebih baik bagi orang-orang bertakwa, dan kamu sekalian (yang bertakwa dan yang tidak) tidak akan dianiaya sedikitpun (QS Al-Nisa’ : 77). Yang menjadi pertanyaan, sudah siapkah kita menjemput kematian untuk perjalanan panjang menuju hidup mulia yang abadi di surga? Sebagai orang bertakwa tentu kita bertanya, sudah cukupkah bekal kita untuk bisa masuk pintu gerbang kemuliaan? Jangan-jangan kita nantinya justru masuk pintu kehinaan berupa siksaan abadi di neraka.

 

Dalam hal ini Rasulullah telah memberi tuntunan agar kita mempersiapkan diri menjemput datangnya maut dengan cerdas dan sebaik-baiknya. Beliau bersabda, “Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 1384) Sungguh, hanya orang-orang cerdas yang banyak mengingat mati dan menyiapkan bekal untuk mati yang paling siap menjemput datangnya maut. Kecerdasan itu tentunya harus diikuti dengan komitmen untuk mengumpulkan bekal sebanyak mungkin dalam bentuk amalan ibadah sesuai tuntunan Al Qu’ran dan As Sunnah. “Dan hendaklah setiap jiwa memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. Al-Hasyr: 18)

 

Bersyukurlah kita yang memegang teguh iman Islam karena Allah telah menjanjikan kematian yang datang dengan ‘lemah lembut’ dan janji untuk mendapatkan surga. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan bahwa Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, ‘Janganlah kamu merasa takut dan jangan pula bersedih, serta bergembiralah dengan surga yang dijanjikan Allah kepada kamu.” (QS. Fushilat: 30).

 

Sudah siapkah kita menyambut kedatangan tamu rahasia ini? Begitu dia datang maka jarum waktu tidak lagi bisa diputar mundur. Perjalanan panjang abadi harus kita tempuh, entah itu kemuliaan di surga atau kehinaan penuh siksa di neraka. Ingat, perjalanan itu sangat panjang dan abadi. (Anton)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*