Berghibah Yang Halal

Berghibah Yang Halal

Rasulullah Saw bersabda, “Tahukah kalian apa itu ghibah? Jawab para sahabat : Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui. Maka kata nabi Saw, Engkau membicarakan saudaramu tentang apa yang tidak disukainya. Kata para sahabat: Bagaimana jika pada diri saudara kami itu benar ada hal yang dibicarakan itu? Jawab nabi Saw, Jika apa yang kamu bicarakan benar-benar ada padanya maka kamu telah meng-ghibah-nya, dan jika apa yang kamu bicarakan tidak ada padanya maka kamu telah membuat kedustaan atasnya.” {HR Muslim, Abu Daud, Tirmidzi] Ghibah sebagaimana disebutkan Imam An Nawawi, adalah menyebutkan sesuatu dari seseorang mengenai hal yang ia benci (jika orang lain membicarakannya), baik mengenai kondisi fisik, tingkah laku, harta, keluarga, pakaian, atau lainnya. Hukumnya haram menurut kesepakatan ulama, bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa perbuatan ini termasuk dosa besar. Akan tetapi, para ulama menilai bahwa ada beberapa keadaan dimana ghibah tidak dilarang. Yakni, jika dengan melakukannya kemaslahatan bakal tercapai, dan juga didasari dengan tujuan benar serta tidak ada cara lain kecuali dengan melakukan perbuatan itu. Beberapa keadaan yang dibolehkan di dalamnya melakukan ghibah antara lain:

Melapor
Dibolehkan bagi pihak yang terdhalimi untuk melaporkan pihak yang mendhaliminya kepada penguasa atau wakilnya, yakni aparat, guna menghentikan perbuatan dhalimnya, dengan mengatakan,”si fulan mendhalimi saya” atau dengan ungkapan lain. Karena melaporkan kedhaliman, dibolehkan oleh syariat maka kebolehan penyebutkan pelaku kedzaliman.

 

Menghilangkan kemungkaran

Dibolehkan ghibah jika bertujuan menghilangkan kemungkaran. Artinya, dengan memberitahu keadaan pelaku maka kemungkaran bisa dicegah. Misalnya dengan mengatakan, “Fulan melakukan demikian maka cegahlah ia.”

Meminta fatwa

Dibolehkan juga melakukan ghibah ketika meminta fatwa jika masalahnya berhubungan langsung dengan yang dighibah dengan mengatakan,”si fulan mendhalimi saya dengan ‘begini, begitu’ apakah ini dibolehkan?”
Peringatan terhadap kaum Muslimin
Ghibah dibolehkan dengan tujuan untuk memberi peringatan bagi pihak yang memiliki kepentingan dengan pihak yang dighibah. Misalkan, seorang laki-laki yang suka bermaksiat hendak mengkhitbah seorang wanita maka tidak mengapa bagi kita memberitahu kepada si wanita mengenai sifat-sifat buruk laki-laki itu, agar mengetahui siapa sejatinya laki-laki yang hendak mengkhitbahnya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam (SAW) sendiri pernah mengatakan kepada Fathimah binti Qaish mengenai kondisi Muawiyah, yang hendak menikahinya,”Adapun Muwaiyah, dia adalah seorang laki-laki faqir…” (Riwayat Muslim)

Terang-terangan bermaksiat

Mengghibah dilarang demi untuk menutupi aib, sedangkan mereka yang terang-terangan berbuat maksiat lalu membuka aib mereka sendiri di depan umum maka para ulama membolehkan melakukan ghibah terhadap para pelaku maksiat itu. Adapun maksiat yang mereka lakukan secara sembunyi-sembunyi tetap tidak boleh dikabarkan kepada orang lain.

Julukan
Jika seseorang dikenal dengan julukan yang sudah populer dan ia sendiri menerima julukan itu, seperti si buta, si pincang, si bisu atau yang lainnya, maka dibolehkan menceritakan kepada orang lain tentangnya dengan julukan itu. (Hidayatullah.com/ton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*