Aqidah Islam Sebagai Dasar Ilmu

Aqidah Islam Sebagai Dasar Ilmu

Ketika Aqidah Islam dijadikan landasan ilmu dan pengetahuan bukan berarti konsep-konsep ilmu dan pengetahuan harus bersumber dari al-Qur`an dan al-Hadits. Yang benar adalah, konsep ilmu dan pengetahuan harus distandardisasi benar salahnya dengan tolok ukur al-Qur`an dan al-Hadits dan tidak boleh bertentangan dengan keduanya. Artinya, jika kita menjadikan Aqidah Islam sebagai landasan ilmu pengetahuan, bukan berarti bahwa ilmu astronomi, geologi, agronomi dan seterusnya harus didasarkan pada ayat tertentu atau hadis tertentu.

Kalau ada ayat atau hadis yang sesuai dengan fakta sains itu adalah bukti keluasan ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu (QS. an-Nisaa:126 dan ath-Thalaq: 12). Misalnya saja dalam astronomi ada ayat yang menjelaskan bahwa matahari sebagai pancaran cahaya dan panas (QS. Nuh: 16), bahwa langit (bahan alam semesta) berasal dari asap (gas) sedangkan galaksi-galaksi tercipta dari kondensasi (pemekatan) gas tersebut (QS. Fushshilat: 11-12), dan seterusnya. Ada sekitar 750 ayat dalam al-Qur`an yang semacam ini (Lihat Al-Baghdadi, 2005: 113). Ayat-ayat ini menunjukkan betapa luasnya ilmu Allah sehingga meliputi segala sesuatu, dan menjadi tolok ukur kesimpulan iptek, bukan berarti bahwa konsep iptek wajib didasarkan pada ayat-ayat tertentu.

Jadi, yang dimaksud menjadikan Aqidah Islam sebagai landasan ilmu pengetahuan bukanlah bahwa konsep ilmu dan pengetahuan wajib bersumber kepada al-Qur`an dan al-Hadits tapi yang dimaksud, bahwa iptek wajib berstandar pada al-Qur`an dan al-Hadits. Ringkasnya, al-Qur`an dan al-Hadits adalah standar (miqyas) ilmu pengetahuan dan bukannya sumber (mashdar) ilmu pengetahuan. Artinya, apa pun konsep yang dikembangkan, harus sesuai dengan al-Qur`an dan al-Hadits, dan tidak boleh bertentangan dengan al-Qur`an dan al-Hadits. Jika suatu konsep iptek bertentangan dengan al-Qur`an dan al-Hadits, maka konsep itu berarti harus ditolak.

Dasar inilah yang membuat kita harus menolak Teori Darwin yang menyatakan bahwa manusia adalah hasil evolusi dari organisme sederhana yang selama jutaan tahun. Berarti manusia sekarang bukan keturunan manusia pertama, Nabi Adam As tapi hasil dari evolusi organisme sederhana. Ini bertentangan dengan firman Allah SWT yang menegaskan, Adam AS adalah manusia pertama dan bahwa seluruh manusia sekarang adalah keturunan Adam AS itu, bukan keturunan makhluk lainnya sebagaimana fantasi Teori Darwin. Firman Allah Swt, “(Dialah Tuhan) yang memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudian Dia menciptakan keturunannya dari sari pati air yang hina (mani).” (QS. as-Sajdah: 7).

Dengan demikian jelas bahwa Al Qur’an dan As Sunnah akan menjadi dasar rujukan pengembangan ilmu dan pengetahuan. (Siddiq al jawi/anton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*